Blogger Widgets

Search This Blog

Wednesday, 18 January 2017

PENERAPAN PENDEKATAN OPEN-ENDED UNTUK MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR MATEMATIS SISWA (BONUS RPP)

Penerapan Pendekatan Open-ended untuk Mengembangkan Kemampuan Berpikir Matematis Siswa 


Image result for logo uho



TUGAS AKHIR

Diajukan sebagai Tugas Akhir sebelum Penelitian
Program Studi Pendidikan Matematika
Program Pascasarjana Universitas Halu Oleo


OLEH :
MATIUS FANNY S
G2 I1 15 010




PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS HALU OLEO
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
2017




PENDEKATAN OPEN-ENDED


A.    Sejarah Pendekatan Open-Ended

Sejarah mengenai pendekatan open-ended yang disajikan berikut ini dikembangkan berdasarkan tulisan Becker dan Shimada (1997) berjudul The Open-Ended Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics. Antara tahun 1971 dan 1976 para ahli pendidikan matematika Negara Jepang melakukan serangkaian penelitian yang berfokus pada pengembangan metode evaluasi untuk mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam pendidikan matematika. Rangkaian penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
1.   Studi pengembangan metoda evaluasi dalam pendidikan matematika, tahun 1971.
2.   Studi pengembangan metoda evaluasi dan analisis pengaruh faktor-faktor belajar dalam pendidikan matematika, tahun 1972-1973.
3.   Studi pengembangan metoda evaluasi untuk mengukur kemampuan siswa dalam keterampilan berpikir matematik tingkat tinggi, tahun 1974-1976.




B.     Konsep Pendekatan Open-ended

Pendekatan open-ended merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang bisa memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir bebas dalam menyelesaikan suatu masalah sesuai dengan cara mereka sendiri. Menurut Shimada (Zahrotusshobah, 2010)pendekatan open-ended adalah pendekatan pembelajaran yang menyajikan suatu permasalahan yang memiliki kebenaran penyelesaian masalah lebih dari satu, sehingga dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam menyelesaikan masalah melalui barbagai cara yang berbeda.



Menurut Suryadi (Ali, dkk., 2007) masalah yang diformulasikan sedemikian hingga memungkinkan variasi jawaban benar baik dari aspek cara maupun hasilnya disebut masalah open-ended. Ketika siswa dihadapkan dengan suatu masalah yang menuntut mereka untuk mengembangkan metode dan cara berbeda dalam upaya memperoleh jawaban yang benar, maka sebenarnya mereka dihadapkan dengan sebuah masalah yang bersifat open-ended. Siswa tidak hanya menentukan jawaban yang benar atas soal permasalahan yang diberikan, melainkan mereka dituntut juga untuk menjelaskan bagaimana caranya sampai pada jawaban yang benar tersebut. Masalah yang bisa diangkat sebagai materi pembelajaran dapat diperoleh dari masalah yang terdapat pada kehidupan sehari-hari atau masalah-masalah yang dapat dipahami oleh pikiran siswa. Melalui masalah itu siswa akan dibawa kepada konsep matematika melalui reinvetion atau melalui discovery.



Menurut Nohda (Kusmiyati, 2007) bahwa tujuan belajaran open-ended yaitu membawa siswa lebih mengembangkan kegiatan kreatif dan pola pikir matematisnya melalui problem solving secara simultan. Penggunaanpendekatan open-ended dalam pembelajaran matematika diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran matematika itu sendiri melalui pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi.



Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak luput dari yang namanya masalah. Masalah sangat beragam jenisnya tergantung pada sudut pandang seseorang menyikapi masalah tersebut. Setiap masalah harus tahu bagaimana cara penyelesaiaannya Untuk memecahkan masalah diperlukan beberapa informasi atau data yang bisa menjadi indikator dari permasalahan tersebut. 



C.    Teori Belajar yang Mendukung Pendekatan Open-ended




Pendekatan open-ended sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada aktivitas belajar siswa dalam pemecahan masalah memiliki beberapa pijakan teori belajar, diantaranya:



1.    Teori Belajar Kognitif

Pada proses pembelajaran teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Belajar merupakan suatu aktifitas yang berkaitan dengan penataan informasi dan reorganisasi perseptual yang berlangsung dalam proses internal.

Menurut Piaget (Budiningsih, 2004), pada umumnya seorang siswa akan memperoleh kecakapan intelektual melalui proses pencarian keseimbangan antara apa yang mereka ketahui dan mereka rasakan dengan dengan apa yang mereka lihat pada situasi baru sebagai suatu pengalaman atau permasalahan. Apabila siswa mampu mengatasi permasalan pada situasi baru tersebut, maka keseimbangan mereka tidak akan terganggu, dan jika tidak maka ia harus melakukan adaptasi dengan lingkungannya. Pendapat lain dari Piaget (Sagala, 2006) bahwa terdapat dua proses yang terjadi dalam perkembangan kognitif siswa, yaitu asimilasi dan akomodasi. Proses asimilasi bisa diartikan sebagai proses penyesuaian informasi baru dengan apa yang telah diketahui, sedangkan dalam proses akomodasi siswa membangun kembali atau mengubah apa yang telah diketahui sebelumnya sehingga memunculkan pengetahuan baru yang lebih berkembang.  

Menurut Bruner (Budiningsih, 2004), “Pembelajaran harus memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar sendiri melalui aktivitas menemukan (discovery). Proses belajar akan berjalan dengan baik jika guru mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep atau pemahaman melalui contoh-contoh yang dijumpai dalam kehidupannya.

Menurut Ausubel (Budiningsih, 2004), “Belajar seharusnya merupakan kegiatan yang bermakna bagi siswa. Materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa dalam bentuk struktur kognitif. Gagasan yang dikembangkan oleh Ausubel inilah yang kemudian kita kenal dengan proses pembelajaran yang bermakna.



2.    Teori Belajar Konstruktivisme

Teori belajar konstruktivisme menekankan bahwa pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada dan orang lain tinggal menerimanya, tetapi pengetahuan lebih diartikan sebagai suatu pembentukan kognitif oleh siswa terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungannya. Proses belajar akan terjadi secara evisien dan efektif apabila siswa belajar secara kooperatif dalam suasana dan lingkungan yang mendukung, serta adanya bimbingan seseorang guru atau orang yang lebih mampu lainnya. Berkaitan dengan pembelajaran, Vygotsky (Slavin, 2008) mengemukakan empat prinsip pembelajaran konstruktivis.


a.    Percakapan Pribadi

b.    Zona Perkembangan Proksimal

c.    Perancahan

d.   Pembelajaran Kerja Sama


Adapun penjelasannya, sebagai berikut:



a.       Percakapan Pribadi

Percakapan pribadi dapat diartikan sebagai suatu mekanisme untuk mengubah pengetahuan bersama menjadi pengetahuan pribadi. Siswa bisa memperoleh pengetahuan dari apa yang disampaikan orang lain kemudian menggunakan pengetahuan tersebut untuk membantu diri sendiri dalam menyelesaikan suatu masalah.



b.    Zona Perkembangan Proksimal

Pembelajaran terjadi ketika siswa bekerja dalam zona perkembangan proksimal (zone of proximal development). Zona perkembangan proksimal ini menggambarkan tugas yang masih belum dipelajari siswa tetapi sanggup untuk dipelajari pada waktu tertentu. Tugas-tugas dalam zona ini mesih belum dapat dikerjakan sendiri oleh siswa tetapi mereka harus mengerjakannya dengan adanya bantuan teman atau orang lain yang lebih kompeten.



c.    Perancahan

Perancahan (scaffolding) bisa diartikan sebagai bantuan yang diberikan oleh teman atau orang dewasa yang lebih kompeten. Menurut Rosenshine &Meister (Slavin, 2008), perancahan berarti menyediakan banyak dukungan kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian menghilangkan dukungan dan meminta siswa tersebut untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar ketika ia dianggap sudah sanggup. Dukungan untuk siswa dalam pemecahan masalah bisa meliputi petunjuk, sarana, dorongan, atau semua hal yang memungkinkan siswa untuk tumbuh secara mandiri, yaitu mampu berpikir dan memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain.



d.   Pembelajaran Kerja Sama

Proses pembelajaran akan selalu menuntut siswa untuk melakukan kerja sama dengan siswa lainnya. Kerja sama inilah yang sangat membantu mereka dalam belajar dan nilai interaksi dengan sesama teman akan dapat memajukan siswa dalam tingkat pemikiran mereka.





3.    Teori Belajar Humanistik

Menurut teori humanistik, proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan manusia. Pada dasarnya teori belajar apapun dapat dimanfaatkan, asal tujuannya adalah untuk membantu manusia dalam memahami serta mengaktualisasikan diri. Salah satu hasil dari teori humanistik adalah taksonomi bloom. Pada penerapannya, taksonomi Bloom ini telah membantu para praktisi pendidikan dalam merumuskan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai serta program-program pembelajarannya. Secara ringkas taksonomi bloom tersebut terdiri dari tiga aspek, yaitu:



a.    Kognitif, yang terdiri dari,

1)   pengetahuan (mengingat dan menghafal),

2)   pemahaman (menginterpretasikan),

3)   aplikasi (menggunakan konsep untuk pemecahan masalah),

4)   analisis (menjabarkan suatu konsep),

5) sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep yang utuh), dan

6)   evaluasi (membandingkan nilai-nilai, ide, metode, dan sebagainya).



b.    Psikomotor, yang terdiri dari,

1)   peniruan (menirukan gerak),

2)   penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak),

3)   ketepatan ( melakukan gerak dengan benar)

4)   perangkaian (melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar), dan

5)   naturalisasi (melakukan gerak secara wajar).



c.    Afektif, yang terdiri dari,

1)   pengenalan (ingin menerima dan sadar akan adanya sesuatu),

2)   merespon (aktif berpartisipasi),

3)   penghargaan (menerima serta setia kepada nilai-nilai tertentu),

4)   Pengorganisasian (menghubungkan nilai-nilai yang dipercaya)

5)   Pengamalan (menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola kehidupan)



Semua komponen pembelajaran, termasuk tujuan, perencanaan, proses, dan hasil pembelajaran diarahkan untuk membentuk manusia yang ideal dan manusia yang dicita-citakan, yitu manusia yang mampu mengaktualisasikan diri dengan optimal. Penerapan teori humanistik dalam pembelajaran mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.



D.    Karakteristik Pendekatan Open-Ended




Nohda merumuskan karakteristik yang mendasari pendekatan open-ended adalah sifat terbuka atau keterbukaan. Menurutnya, dalam pendekatan pembelajaran open-ended terdapat tiga hal yang mendasarinya (Afgani, 2014).



1.   Process is open.(Prosesnya terbuka)

Maksud dari proses yang terbuka adalah masalah matematika berupa soal yang diberikan kepada siswa memiliki banyak cara penyelesaian yang benar.

Contoh: Sebuah tali dibagi menjadi 10 bagian, yang panjangnya masing- masing membentuk deret aritmatika. Apabila yang paling pendek panjangnya 5 cm dan yang paling panjang 40 cm. Hitunglah panjang tali sebelum dipotong.



2.   End products are open. (Hasil akhirnya terbuka)

Hasil akhir yang terbuka berarti masalah matematika berupa soal memiliki tipe jawaban soal yang banyak.

Contoh : Sebutkan beberapa bilangan yang habis dibagi 5 dari 100 bilangan asli pertama ?



3.   Ways to develop are open.(Cara pengembangan lanjutannya terbuka)

Artinya bahwa ketika siswa telah selesai menyelesaikan masalah, mereka dapat mengembangkan masalah yang baru dengan mengubah kondisi masalah yang ada di awal.

Contoh: 3 bilangan membentuk barisan aritmatika. Perbandingan bilangan pertama dengan jumlah bilangan yang lain adalah 5 : 4 .Jika setiap bilangan ditambah 1 maka terjadi 3 bilngan baru, dimana: 2log (bilangan ke-2) + 2log (bilangan ke-3). Hitunglah tiga bilangan tersebut !



E.     Prinsip Pendekatan Open-Ended




Menurut Nohda (Afgani, 2014, hlm. 5) pembelajaran dengan menggunakan pendekatan open-ended mengasumsikan tiga prinsip, yakni sebagai berikut:

1.   Related to the autonomy of student’ activities. If requires that we should appreciate the value of student’ activities of fear of being just non-interfering.

2.  Related to evolutionary and integral nature of mathematical knowledge. Content mathematics is theoretical and systematic. Therefore, the more essential certain knowledge is, the more comprehensively it derives analogical, special and general knowledge. Metaphorically, more essential knowledge opens the door ahead more widely. At the same time, the essential original knowledge can be reflected on many times later in the course of evolution of mathematical knowledge. This reflection on the original knowledge is a driving force to continue to step forward across the door.



3.   Related to teachers’ expedient decision-making in class. In mathematics class, teachers often encounter student’s unexpected ideas. In this bout, teachers have an important role to give the ideas full play, and to take into account that other students can also understand real amount of unexpected ideas.



F.     Masalah Dalam Pendekatan Open-Ended




Pada pembelajaran melalui pendekatan open-ended, masalah merupakan alat pembelajaran yang utama. Untuk mengkondisikan siswa agar dapat memberikan reaksi terhadap situasi masalah yang diberikan berbentuk open-ended tidaklah mudah. Biasanya masalah yang digunakan merupakan masalah non-rutin, yakni masalah yang dikontruksi sedemikian hingga siswa tidak serta merta dapat menentukan konsep matematika prasyarat dan algoritma penyelesaianya. Shimada & Becker(Afgani, 2014)mengemukakan bahwa, secara umum terdapat tiga tipe masalah yang dapat diberikan, “Menemukan pengaitan, pengklasifikasian, dan pengukuran.



1.      Menemukan hubungan. Siswa diberi fakta-fakta sedemikian hingga siswa dapat menemukan beberapa aturan atau pengaitan yang matematis.



2.      Mengklasifikasi. Siswa ditanya untuk mengklasifikasi yang didasarkan atas karaktersitik yang berbeda dari beberapa objek tertentu untuk memformulasi beberapa konsep matematika.



Pilih satu atau lebih bangun yang memiliki ciri atau karakteristik sama dengan gambar bangun B dan tuliskan ciri-ciri yang sama tersebut. Selanjutnya, pilih satu atau lebih bangun yang memiliki ciri yang sama dengan bangun H, kemudian tuliskan ciri-ciri tersebut! Catatan: Biasanya siswa hanya ditanya, mana tabung, bola, limas, prisma dan lain-lain.



3.      Pengukuran. Siswa diminta untuk menentukan ukuran-ukuran numerik dari suatu kejadian tertentu. Siswa diharapkan menggunakan pengetahuan dan ketrampilan matematika yang telah dipelajarinya.



Adapun penyajian soalnya dapat dikreasikan dengan berbagai cara, diantaranya sebagai berikut:



a.  Sajikan permasalahan melalui situasi fisik yang nyata dimana konsep-konsep matematika dapat diamati dan dikaji oleh siswa.



b.  Soal-soal pembuktian dapat diubah sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan hubungan dan sifat-sifat dari variabel dalam persoalan itu.



c.  Sajikan bentuk-bentuk atau bangun-bangun (geometri) sehingga siswa dapat membuat suatu konjektur.



d.  Sajikan urutan bilangan atau tabel sehingga siswa dapat menemukan aturan matematika.



e.  Berikan beberapa contoh konkret dalam beberapa kategori sehingga siswa bisa mengelaborasi sifat-sifat dari contoh itu untuk menemukan sifat-sifat yang umum.



f.    Hadapkan siswa pada suatu kelompok soal atau masalah yang mempunyai beberapa sifat yang sama. Suruh siswa untuk menyelesaikannya dan kemudian disuruh untuk menemukan beberapa kesamaan sifat-sifat yang mungkin yang terjadi paling sedikit diantara dua soal yang diberikan.



G.    Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Open-Ended




Dalam pendekatan open-ended guru memberikan permasalah kepada siswa yang solusinya tidak perlu ditentukan hanya melalui satu jalan. Guru harus memanfaatkan keragaman cara atau prosedur yang ditempuh siswa dalam memecahkan masalah. Hal tersebut akan memberikan pengalaman pada siswa dalam menemukan sesuatu yang baru berdasarkan pengetahuan, ketrampilan dan cara berpikir matematik yang telah diperoleh sebelumnya. Jika dianalisis berdasarkan teori-teori yang ada, maka ada beberapa keunggulan dari pendekatan ini, antara lain :



1. Siswa memiliki kesempatan untuk berpartisipasi secara lebih aktif serta memungkinkan untuk mengekspresikan idenya.



2.  Siswa memiliki kesempatan lebih banyak menerapkan pengetahuan serta ketrampilan matematika secara komprehensif.



3. Siswa dari kelompok lemah sekalipun tetap memiliki kesempatan untuk mengekspresikan penyelesaian masalah yang diberikan denga cara mereka sendiri.



4.  Siswa terdorong untuk membiasakan diri memberikan bukti atas jawaban yang mereka berikan.



5.    Siswa memiliki banyak pengalaman, baik melalui temuan mereka sendiri maupun dari temannya dalam menjawab permasalahan



Namun demikian, pendekatan ini juga memunculkan berbagai kelemahan. Adapun kelemanahan yang muncul antara lain :



1.  Sulit membuat atau menyajikan situasi masalah matematika yang bermakna bagi siswa.



2. Sulit bagi guru untuk menyajikan masalah secara sempurna. Seringkali siswa menghadapi kesulitan untuk memahami bagaimana caranya merespon atau menjawab permasalahan yang diberikan.



3.   Karena jawabannya bersifat bebas, maka siswa kelompok pandai seringkali merasa atau cemas bahwa jawabannya akan tidak memuaskan.



4. Terdapat kecenderungan bahwa siswa merasa kegiatan belajar mereka tidak menyenagkan karena mereka merasa kesulitan dalam mengajukan kesimpulan secara tepat dan jelas.



Namun dari kelemahan tersebut tidak perlu dijadikan permasalahan yang serius. Jangan sampai calon guru terlalu terfokus pada kelemahannya sehingga keberatan untuk menerapkan pendekatan ini.

H.    Implementasi Pendekatan Open-Ended

Hal-hal yang perlu dilakukan dalam pembelajaran dengan model open-ended yaitu:

1. Orientasi siswa pada masalah matematika open-ended.
Guru memaparkan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang diperlukan, dan memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pemecahan masalah. Siswa menginventarisasi dan mempersiapkan logistik yang diperlukan dalam proses pembelajaran. Siswa berada dalam kelompok yang telah ditetapkan.
2. Mengorganisasi siswa dalam belajar pemecahan masalah.
Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang dipecahkan. Siswamenginvestigasi konteks masalah, mengembangkan berbagai perspektif dan pengandaian yang masuk akal.
3. Membimbing penyelidikan
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan trial and eror atau eksperimen untuk mendapatkan suatu pemecahan yang masuk akal, mengulanginya lagi untuk mendapatkan kemungkinan pemecahan dan solusi alternatif. Siswa melakukan inkuiri investigasi, dan merumuskan kembali masalah, untuk mendapatkan suatu kemungkinan pemecahan dan solusi yang masuk akal. Mengevalua si strategi yang digunakan untuk memperkuat argumentasi dan sekaligus untuk menyusun kemungkinan pemecahan dan alternatif jawaban.
4.   Mengembangkan dan mempresentasikan hasil karya.
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti ringkasan, laporan, model-model pemecahan masalah, dan membantu dalam berbagai tugas dalam kelompok. Siswa menyusun ringkasan atau laporan baik secara individual atau kelompok dan menyajikannya dihadapan kelas dan berdiskusi dalam kelas.
5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Guru membantu siswa melakukan refleksi dan mengadakan evaluasi terhadap penyelidikan dan proses-proses belajar yang mereka gunakan.
Siswa mengikuti asessmen dan menyerahkan tugas-tugas sebagai bahan evaluasi proses belajar.
Tujuan pembelajaran Open-ended adalah siswa diharapkan dapat mengem-bangkan ide-ide kreatif dan pola pikir matematis, dengan diberikan masalah yang bersifat terbuka siswa terlatih untuk melakukan investigasi berbagai strategi dalam menyelesaikan masalah. Siswa akan memahami bahwa proses penyelesaian suatu masalah sama pentingnya dengan hasil akhir yang diperoleh.
Langkah penting lain yang harus dikembangkan guru dalam pembelajaran melalui pendekatan open-ended adalah menyusun rencana pembelajaran. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran sebelum problem tersebut disampaikan pada siswa, yakni :
a.       Apakah masalah tersebut kaya dengan konsep-konsep matematika dan bernilai?
Masalah harus mendorong siswa untuk berfikir dari berbagai sudut pandang. Selain itu, masalah juga harus kaya dengan konsep-konsep matematika yang sesuia dengan siswa berkemampuan rendanh sampai tinggi untuk menggunakan strategi sesuai dengan kemampuannya.
b.      Apakah level matematika dari masalah itu cocok dengan siswa?
Pada saat menyelesaikan masalah, siswa harus menggunakan pengetahuan dan ketrampilan yang dimilikinya. Jika soal tersebut diprediksi diluar jangakaun siswa, maka guru harus mengubahnya.
c.       Apakah masalah itu mengundang pengembangan konsep matematika lebih lanjut?
Masalah harus terkait dengan konsep-konsep matematika lebih tinggi sehingga memacu siswa berfikir tingkat tinggi Apabila telah diformulasi masalah yang sesuia dengan kriteria tersebut, maka kita dapat mengembangkan rencana pembelajaran yang baik. Untuk itulah, maka kita susun beberapa hal berikut :
1)      Tuliskan respon siswa yang diharapkan.
2)      Tujuan masalah yang diberikan hasrus jelas.
3)      Sajikan masalah semenarik mungkin.
4)      Lengkapi prinsip posing problem sehingga siswa memahaminya dengan mudah.
5)      Berikan waktu yang cukup kepada siswa untuk melakukan eksplorasi.


Secara lengkap rencana pembelajarannya dapat dilihat pada skenario pembelajarannya dibawah ini.
Kelas / Semester          : V / 1
Materi Ajar                  : Menghitung volume kubus dan balok
Alat dan Bahan           : Kubus satuan secukupnya
Langkah-langkah Pembelajaran
1.        Orientasi
a.    Guru mengecek pengetahuan awal siswa mengenai kubus dan balok.
b.    Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yaitu menghitung volume kubus dan balok.
c.    Guru memotivasi siswa untuk selalu semangat dalam mengikuti proses pembelajaran.
d.   Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok bisa terdiri 3-5 orang siswa. Pembagian kelompok diusahakan harus heterogen.
e.    Guru memberikan motivasi lanjutan kepada siswa. Siswa diminta untuk menyebutkan hal-hal atau contoh kasus di kehidupan sehari-hari mereka yang memiliki hubungan dengan materi ajar volume kubus dan balok.
f.     Siswa mempersiapkan media pembelajaran yang telah mereka buat secara berkelompok (di luar jam sekolah).
2.        Pengorganisasian
g.    Setiap kelompok menyediakan 36 kubus satuan.
h.    Setiap kelompok mendapatkan lembar kerja siswa (LKS).
LKS yang disediakan oleh mengarahkan siswa beraktifitas dengan media kubus satuan secara berkelompok.
Misalnya:
1)   Buatlah bentuk model kubus-kubus lainnya yang bisa dibentuk dari 36 kubus satuan yang tersedia!
2)   Berapa jumlah kubus satuan yang diperlukan untuk membuat kubus-kubus lain tersebut?
3)   Buatlah bentuk berbagai model balok dengan menggunakan 36 kubus satuan yang tersedia! (Tiap model balok yang dibentuk harus menggunakan 36 kubus satuan yang tersedia)
4)   Catatlah pekerjaan kelompok pada lembar yang telah disediakan:
a)    Model kubus yang dibuat:
1)        (panjang) (lebar) (tinggi) dan (jumlah total balok satuan)
2)        (panjang) (lebar) (tinggi) dan (jumlah total balok satuan)
3)        dan seterusnya.
b)   Model balok yang dibuat:
1)        (panjang) (lebar) (tinggi) dan (jumlah total balok satuan)
2)        (panjang) (lebar) (tinggi) dan (jumlah total balok satuan)
3)        dan seterusnya.
3.        Pemberian Bimbingan
i.  Setiap kelompok melakukan diskusi dan bekerja sama dalam menyelesaikan soal LKS.
Setiap kelompok mempunyai kebebasan untuk mengkonsruksi model kubus dan balok yang lain dengan menggunakan balok satuan yang tersedia.
j.     Guru berkeliling untuk mengawasi pekerjaan siswa.
k.   Guru memberikan arahan serta bimbingan kepada siswa dalam penggunaan media dan pengerjaan LKS supaya siswa tidak salah arah.
l.      Setiap kelompok mencatat hasil pekerjaanmereka pada lembar yang telah disediakan.
4.        Pengembangan dan Presentasi
m.    Setiap kelompok melakukan diskusi serta pengembangan lebih lanjut mengenai hasil pekerjaan kelompok masing-masing.
n.      Setiap kelompok membuat kesimpulan dari hasil pekerjaan yang selanjutnya akan menjadi bahan presentasi.
o.      Setiap kelompok menyampaikan hasil pekerjaan kelompoknya kepada kelompok yang lain.
p.      Setiap siswa (kelompok) bisa memberikan tanggapan terhadap penyampaian hasil pekerjaan kelompok lain.
5.        Analisis dan Evaluasi
q.      Siswa bersama guru melakukan refleksi terhadap proses belajar yang telah dilakukan serta hasil belajar yang diperoleh siswa.
r.        Guru melakukan evaluasi untuk mengecek pemahaman siswa terhadap materi ajar secara keseluruhan.



DAFTAR PUSTAKA

Afgani, Jarnawi. (2014). Pendekatan Open-Ended dalam Pembelajaran MatematikaBandung: tidak diterbitkan.

Ali, Mohammad, dkk. (2007). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: Pedagogiana Press.
Budiningsih, Asri. (2012). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Sagala, Syaiful. (2006). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Slavin, Robert E. (2008). Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik. Jakarta: Indeks.


 

No comments:

Post a Comment