Blogger Widgets

Search This Blog

Saturday, 9 April 2016

NOVEL 2016 : UNTUKMU YANG MENGAJARIKU MENCINTAI SEBATAS PUNGGUNG



http://imgsdown.1mobile.com/group3/M00/58/26/S34UR1YCeQmAO0cBAAs2EKlDO5o937.png


Part 1 : Kopi

“apa ada lagi yang ingin dipesan, mas?”
“untuk saat ini cukup ini saja, mba”
Tak butuh waktu lama, dia kembali.
“silahkan menikmati” katanya sambil meletakan dua buah cangkir itu di meja dan berlalu.
Aku mengaduk kembali kopi hitam yang ku pesan.
“Kopi, yah? Mungkin dia sudah tak menyukai kopi lagi.” Pikirku sambil memandang kedua cangkir yang berhadapan.
Seharusnya aku tak di sini, hujan yang menahanku di sini. Di kafe yang outdoor seperti ini membuatku tampak terlihat miris. Bagaimana tidak, seorang pria yang memesan kopi dalam dua cangkir tanpa ada kawan berbicara itu adalah hal konyol yang dilakukan. Pikir mereka mungkin “kasihan, orang yang dia tunggu tidak datang”. Padahal mereka tak tahu apapun itu, aku bahkan tak membuat janji untuk bertemu orang. Entah kenapa aku memesan dua cangkir kopi. Mungkin itu karena kenangan.
***
“hei... kita ke K-Mart yuk, di sana ada kopi yang enak” ajakku
“hah.... aku tak suka kopi” tolaknya
“ayolah, kamu kan belum coba”
“tapi, nanti saya tidak bisa tidur”
“besok kan kamu dines siang, ayo lah”
“iya deh”
“tapi kita jalan kaki yah”
“hah, jalan kaki?”
“iya, sekalian olah raga. Yah?” ajakku lagi
“iya” terimamu
Itu kali pertama kamu mau menerima ajakkanku. Sebenarnya aku tak begitu suka kopi, tapi entah kenapa aku menjadikannya alasan. Aku menikmati perjalanan itu bersamamu, bukan kopinya. Aku sengaja agar ada banyak waktu buat kita berdekatan, tidakkah romantis berjalan kaki berdua di tengah lorong yang sepi. Kamu mungkin tak menikmatinya, aku yakin itu membuatmu lelah.
**
Aku masih mengaduk aduk kopi yang ku pesan tadi. Uapnya masih tersisa, mengepul ke langit langit kafe dan membaur dengan udara dingin ulah si hujan.
***
“Boleh aku duduk di sini?” dia bertanya padaku. Aku mengiyakan. Masih terpatri jelas kenangan pertama kita bertemu. Dia tersenyum, senyuman khas yang tak mampu disaingi oleh siapapun. Kita duduk bersebelahan di sebuah acara membosankan, yang menjadi menyenangkan karena ada dia di sampingku. Saat itu bukanlah kali terakhir kita bertemu, karena nyatanya tak jarang kita berjumpa, apalagi di sekolah kita yang kecil ini.
**
Entah berapa putaran sendokku mengintari dalam pinggir gelas, aku lupa. Aku menyeruput kopi yang ku pesan itu. Pahit.
***
“kamu lagi apa?” tanyanya setelah aku mengangkat telpon darinya yang kutunggu sejak 2 hari kita bercerai di bandara.
“lagi santai, kam-?”belum selesai kalimatku, kalimatnya sudah menimpah kalimatku
“saya sudah kembali sama mantan saya” ucapmu
“hah? Oh... iya, itu bagus” kataku getir
**
Seharusnya aku menambah gula buat kopi ini. “apa percintaanku juga butuh gula?”
***
“bisakah kamu bersabar? Aku mencintaimu tapi karena hal lain aku memilihnya. Aku mohon bersabarlah” ucapnya
“iya” ucapku
**
Aku memandang cangkir di depanku yang belum ku minum. Aku tuangkan gula sebanyak mungkin agar tidak ada rasa pahit di dalamnya.
“biarlah kopinya terasa manis, aku tak ingin pahit itu merusak indera perasanya. Karena aku menyayanginya”

Jika akar menginginkan pucuk dahanya menjulang tinggi, ia harus menancap ke dalam menjauhi pucuknya, apakah kita harus demikian ?



Note : *** Flash back (masa lalu)
            **  keadaan sekarang



Silahkan Memberi Komentar ... >_< Konichiwa....

1 comment:

  1. lanjutin donk kk,,, keren banget... sayangnya msh sepotong novelnya...

    ReplyDelete